Sunday, February 2, 2014
Monday, February 11, 2013
Friday, January 11, 2013
Maen salju
Setelah lelah bermain salju, kami balik lagi ke apartemen temen Aceh. Mereka masakin masakan Indo dan masakan Aceh buat kita. Seneng banget. Udah lama nggak ketemu nasi versi Indonesia, dadar kita, dan keumamah asli aceh. Liat nih before afternya, dalam beberapa menit saja, bersih-bersinar piring dan wajannya J ya ini momen kangen-kangenan masakan Indo.
Yedi ocak
“unuttum (saya lupa)!” (padahal sebenernya aku nggak tau karena belum pernah pergi ke stasiun Metro dari sekolah, cuma pernah dari rumah dan sekali doang), akhirnya temenku ini tidak tega membiarkanku sendirian mencari stasiun. Kalo cuacanya cerah, it’s not a big problem, but it was hard snow! I even didn’t bring any umbrella. What’s in my head? BLANK seputih salju.
But not, I didn’t keep it. I didn’t keep any afraid feeling a little longer, I was just a bit sad but yahh I thought it would be such interesting journey J. She gave me her metro card, and then I went downstairs to get the Metro. Yah ini memang bukan pemandangan biasa. Seorang wanita asia yang terlihat seperti anak-anak, berkerudung dan habis terpeleset. Tidak ada tempat duduk tersisa, harus menggelantung sepanjang jalan. Stasiun aku berada di bagian hampir ujung dan stasiun yang dituju berada di ujung lainnya. Uwoow. Jam menunjukkan pukul 5 lebih 15 sore, udah magrib dan udah gelap. Tibalah di stasiun pemberhentian paling akhir, Aksaray.
Aku cuma perlu nyari Mall Historia, dan sebelahnya adalah tempat yang dituju, PASIAD office 2nd floor. Aku bingung, ke lantai 2 masuknya dari mana?? Ini di bawahnya ada restoran. Jika saya masuk, para pelayan itu akan menganggap saya berencana makan di restoran mereka. Mau nanya mikir2 dulu karena orang sini jarang banget yang bisa English. Jadi keinget kejadian di minimarket waktu itu. Pelayannya bermaksud menawarkan bantuan karena saya terlihat mencari-cari sesuatu yang tidak ada.
Dia,” sdsdsldksldk………”
Aku bingung tapi aku tau mau jawab apa kalau ntar dia selesai ngomong.
Lanjutannya dia:”… sdsdsldksldk?”
Aku:” anlamadım” (bahasa Turki yang aku tau banget artinya, yaitu “saya tak mengerti”)
~~~~~
Dan masuklah saya ke restoran dengan pose mempraktekkan hukum inersia, saya masuk dan seolah-olah saya ingin keluar pada saat yang sama, “umm affedersiniz, PASIAD nerede biliyor musun?”
“yukarıda ikinci kat” (di atas, lantai ke-2)
“Tamam, teşekkür ederim!” (ok, terimakasih banyak)
“Rica ederim”
Ditemukanlah tangga kecil di samping restoran untuk menuju ke atas. Berita heboh selanjutnya pemirsa, saya salah mendatangi tempat. Saya harusnya pergi ke EM semacem kantor kepolisian yang mengurus perijinan orang asing. Itu letaknya beda satu stasiun dari sini. Uff yaaa~~
“Affedersiniz, EM biliyor musun?” (permisi, Anda tau EM nggak?)
“evet, Malezya mı?”(iya. Kamu orang Malaysia ya?)
“Indonesia” (asal kalian tau ya, orang sini bilangnya Endonezya, yah terserah mereka tapi saya tetap memperkenalkan diri saya dari Indonesia )
“mm nasıl git?” (gimana pergi ke sana, haha lupa pake grammernya)
“bu metrobus, olur!” (pake bus ini bisa, setting di halte pemirsa)
“tamam, teşekkür ederim!
“Bir şey değil” (bukan apa-apa)
The new challenge was, ini ongkosnya berapa? “lets have a new conversation” batinku.
Disamping aku ada pemuda yang mukanya seumuran sama aku, tapi setelah dikonversikan, ini adalah anak SMA, yang ketika saya tanya ternyata tidak bisa English.
“EM’ya ne kadar?”
“ 1,5 Lira”
“uzak mı?”(jauh nggak?)
“Uzak değıl, yarım dakıka”(nggak jauh, Cuma setengah menit)
“Yirmi dakika?” (20 menit?)
“..otuz “(30)
“Ooh yarım!” (baru inget yarım itu artinya 1/2)
Sesampainya di tempat yang dituju, EM, harus melewati pemeriksaan yang ketat, seperti di bandara waktu mau ke luar negeri. Tunjukin paspor, pakai jaket lagi dan secara tak sadar seperti melihat orang berwajah negara aku, udah kelewat papasannya, tapi reflek manggil “Erwin abi!” (padahal nggak yakin itu siapa)
Yang dimaksud nengok dan cuma bilang, “ ke lantai paling atas”.
Di lantai atas itu nggak ada apa-apa, turun lagi ke lantai 2, minjem HP istrinya orang Amrik, text this:
“Erwin abi, ini Fatimah. Now i’m in 2nd floor. Dunno wat to do”
“Erwin abi, ini Fatimah. Now i’m in 2nd floor. Dunno wat to do”
Dari lorong sebelah sana langsung muncul orang, “ Kamu yang telat ya? “
Haha yang tadi bukan Erwin Abi.
Dan bertemulah aku dengan sekelompok sarjana yang sempat diwisuda (temen2 aku), pelukan, saling melepas rindu. Di negeri orang, ini tuh sesuatu banget. Kami lanjut makan. Mereka makan pilav doner alias nasi pake daging panggang. Gue? Cuma bisa patates çorbası alias sup kentang. Harus terus bersyukur. Malemnya nginep di apartemen kawan yang dari jakarta. Paginya nyamperin apartemen temen yang dari aceh sambil bawa belanjaan. Lanjut maen salju sampai kedinginan dan kelaparan. Sangat menyenangkan. ben çok mutluyum
Oily-milky
Minggu terakhir hingga minggu pertama tahun baru terasa berat karena bermasalah dengan makanan yang serba oily dan milky. Hari-hari ditemani dengan kentang rebus + telur rebus/panggang jauh-jauh pokoknya sama si kembar oily-milky. Alhamdulillah setelah minggu kentang berlalu, masuklah ke minggu bubur. Cuma mau bilang pake ekspresi ini “Elo nggak akan percaya gimana senengnya gue nemu beras terus bisa masak bubur. Selama 22 tahun ini beras adalah bahan makanan yang selalu menghiasi hari-hari gue. And it does work! You know it can be a medicine”.
Seperti yang dikatakan Jang Geum sesuatu bisa menjadi obat atau malah racun bergantung pada kondisi pasien. Racunku dalam waktu ini: daging sapi, oily-milky products. Dan obatku saat ini: beras, kentang, pisang. Garis ini sangat jelas tergambar dipertegas oleh dimuntahkannya obat yang aku bawa dari Indo. Obat bro, dimuntahin! Maka gentarlah aku pada mereka.
Praying, is the best medicine. I know there’s so much medicine out of there. But it doesn’t mean you will get health directly after you take them in. Health is a give from the god. You just need to realize, then ask for it. It doesn’t matter you don’t have a money or medicine He will sent it to you. Jika tidak, maka akan kejadian yang lebih baik, kuncinya sabar. Maka alangkah bijak untuk memanjatkan do’a,” Ya Allah yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hamba pada agama ini”.
Friday, December 21, 2012
20122012- Salju Pertama
Ini
sudah hampir 5 hari absen dari ritual mandi dan hari ini meskipun belum butuh
mandi, rasanya harus. Ini dalam rangka menjaga ritual kemanusiaan. Saya takut
kalau hak saya sebagai manusia akan dicabut. Karena mandi, saya berangkat
terakhir. Ini sudah jam 10 kurang 15. Jam ke-3 mulai jam 10.30. Masih ada
waktu. Turun menuju lantai dasar dan
membuka pintu. Dan, oh ada salju tipis di jalan-jalan, di atas mobil, dan, pot
yang berisi air sudah berubah menjadi es. Pagi ini angin berhembus dengan
kencang kemudian kubuka payung dan uffhh payungnya langsung kebalik, useless
akhirnya coba kututup tapi sangat sulit. Turn around and i did
it! Angin makin kencang, suer aku pengen nggak peduli aja tapi angin ini
ngebawa serpihan-serpihan es. You know what? I’am tropical girl and I don’t know
anything about today. Uffhh. Lagi saya membuka payung dan kudekap gagangnya
hingga tak berbalik lagi. Jalanan terlihat sepi. Tangan saya kedinginan,
menjadi pecah-pecah dan berwarna putih. Kumasukkan satu ke dalam kantong,
berharap ada perubahan. Payung berbalik lagi, tulang-tulangnya panic seakan mau
melarikan diri. Pilihan terbaik adalah menutupnya untuk kedua kali, but I couldn’t
do that. Why? Because my fingers, frozen. Failed. Again failed. Cerita tentang
daun telinga putus kini menari di pikiran. Gimana kalo gara-gara payung ini
jariku ada yang putus? Ahhh headline Koran bisa jadi. Kutiup jari-jemariku dan berdo’a, dan berhasil,
kemudian kulanjutkan dengan berjalan cepat-cepat.
Sesampainya
di sekolah, segera kuraih teh panas. Kukulum jari jemariku untuk mendapatkan kalornya. Setelah 5 menit, aku
merasa lebih baik. Aku masuk beberapa kelas dan di luar salju turun. Tidak
seperti pagi tadi, ini begitu indah. Seperti butiran kapas yang jatuh mengikuti
alunan musik, mencetak hamparan putih bersih. My first snow. Semuanya
putih. My favorite colour. Someone give me chocolate bar. With a cup of light
coffee, it’s just so nice.
I
took some pictures. Beberapa butiran salju mendarat di bibir jendela dan
bentuknya lebih halus dari bongkahan es serut.
Thursday, December 13, 2012
Extraordinary Day
Hari ini berbeda dengan hari-hari lainnya. Hari ini ada kegiatan yang namanya kurang jelas kutangkap, setiap anak membawa makanan dari rumahnya untuk dikumpulkan dan dimakan bersama teman-temannya. Acara ini dilakukan oleh anak-anak SD. Di sini hanya ada 4 tingkatan untuk SD yaitu dari kelas 1 hingga kelas 4 (SMP dan SMA juga 4 tahun). Beragam sekali makanan yang dibawa anak-anak mulai dari makanan berat seperti nasi dalam kulit terong (aku sebenernya nanyain namanya cuma nggak inget secara banyak sekali, dan banyak nanya sebenernya mengganggu acara makan, jadi kuputuskan untuk langsung coba), nasi-daging dalam bawang bombay, salad dalam yoghurt, biji2an kecil yang nampak seperti beras dalam tampilan nasi goreng yang dicampur seledri segar dan daun bawang, Daging cincang dibungkus nasi super padat(nggak kebayang cara masaknya gimana, tapi enak banget kayak baso daging), acar, terus cake coklat, kue isi keju, kacang-kacangan mulai dari kacang hazelnut, fistik, sampai kacang arab panggang, buah-buahan seperti tangerine,manisan apricot, apel juga ada.
Cok guzel..semuanya !!
Seseorang pernah berkata:” Ketika kita
makan sesuatu yang belum pernah kita makan sebelumnya, bagian otak kita yang
teraktifkan lebih banyak karena ia butuh tempat baru untuk menyimpan memori
rasa makanan tersebut”
Siangnya
saat lagi memakai internet, 2 guru sedang baca al-qur’an rupanya. Ah jadi
pingin baca. Jadi kubuka catatan yang di situ ada surat Al-lail dan al
ghassiyah. Hari ini sore jum’at dan tiba-tiba ingin baca surat Yasin. Sekitar 1
jam kemudian, aku bertanya pada beberapa orang di ruangan, dan ternyata mereka
tidak membawa Al-Qur’an. Ada sedikit perasaan kecewa. Hari ini hampir habis (45
menit menjelang maghrib). Seorang hocam memberikan buku karangan Fetullah Gulen
berjudul The essential of Faith, kubaca dan kupahami, kuulang lagi beberapa
kali (mungkin isinya akan saya bahas nanti jika punya kesempatan, insyaallah). 14
halaman sudah menguras otak. Ini buku yang bagus. Elif hocam datang membawa
setumpuk buku. Ada buku tebal di atasnya dengan sampul cantik.
“Al-Qur’an
mi?”
“evet”
“bakabilirmiyim?”
“buyrun”
Allah ya..sampai Kau antar ke
hadapan hamba. Terimakasih.
Gulcan hocam, Zeynep hocam dan Duygu hocam mulai bertanya-tanya tentang
Indonesia dan keluargaku, dan aku pun diberi kesempatan untuk bertanya-tanya.
Ini sangat menyenangkan.
Seusai
sholat maghrib aku berencana pulang duluan karena Guru-guru yang serumah akan
rapat hingga jam setengah 7 malam. aku ingin pulang duluan, karena sudah punya
kunci. Hadije hocam mengijinkan. Aku minta didoakan agar mendapat perjalanan
yang aman. Beliau mengiyakan.
Dari gerbang sekolah Burc, harus
berjalan ke depan hingga bertemu deretan took, menyeberang jalan dan melewati
sederetan telefon umum (nggak terlalu yakin masih kepake atau nggak). Dingin sekali pemirsa. Mungkin ini 5
derajat. Aku berjalan dengan menutup hidung dan mulut. Lampu jalanan tidak
begitu banyak, dan harus sering melihat kanan/kiri untuk mengetahui ada
tidaknya mobil yang mendekat. Sebuah
plang “Tek Yon” terlihat, ini adalah sokak (jalan) yang sering dilewati
orang-orang yang kayaknya mahasiswa/i. Ok jalan sudah benar. Ada sokak baru di depannya ada plang PTT.
Mulai nggak yakin. Kenapa yaa di sini nggak ada plan tulisan nama jalan, mana
lampunya nggak banyak. Aku mengambil sokak lain yang ada di depan. Daaan
jejejengg kok rasanya nggak kenal,, mungkin beda tampilan kalo malem,, tapi kok
rasanya bukan jalan ini~~. Sampai ujung jalan akhirnya harus menabahkan
hati bahwa saya harus putar balik. Dengan hati-hati mengingat. Oh iya ini saya
kenal, terus ke sini. Taradadada~~
kembali ke depang sokak sekolah Burc. Oh my~~ sinetron beeuddh yeaaa~~. Ok
tenang,, start dari awal lagi, lewatin telefon, tekyon, dan PTT, ambil sokak
PTT akhirnya memasuki rumah-rumah berhalaman. Ada tanaman mawar. Oh saya kenal
sekali. Ada sekolah TK. Oh iya-iya ini benar jalannya. Lihat ke depan ada
masjid. Oh syukurlah. Diujung jalan kembali bingung. Sebenernya aku jarang
pulang jalan kaki, dan kalaupun jalan kaki, aku keasyikan ngobrol dan nggak
liat jalan, dan entah kenapa jalan pulang terasa berbeda dari jalan pergi.
Ngeles. Ambil sisi lurus melewati dinding-dinding tinggi dan inget kejadian
tadi pagi hampir disapa oleh anjing. Semoga nggak ketemu anjing. Melewati percabangan lagi, lurus lagi dan
yess,, I kow this place~~ perempatan bahcelievler yang banyak bunganya. Dari
sini segalanya teras mudah, kecuali hawa dingin yang makin memburu. Hidung,
pipi, tangan, kaki, semuanya terasa dingin.
I got the apartment, open the
window and I am back!!
Aku
langsung masuk dapur, nyalain api, angetin sup, ambil daun bawang, telur dan
bikin dadar, aku belum melepas mantel tebalku. Panas tubuh harus segera
dipulihkan. Makanan terasa enak. Aku mencuci beberapa wajan dan piring dengan
air sangat dingin karena entah kenapa kerannya sulit diatur, dan baru kusadari
jika kau merasa kedinginan tubuhmu akan memerah seperti memerahnya hidung saat
pilek.
Hari
yang luar biasa. Terimakasih Tuhan, dapat mencicipi perasaan ini.
Monday, December 10, 2012
Hi hi hi
hal-hal Lucu sepekan ini:
>kalau jalan sama ablalar, suka di depan dan suka belok sesuka hati, ntar dibelakang abla manggil, manggil ngasih tau kalau salah ambil jalan.
>Ketuker terus penggunaan corab (kaus kaki) dengan corba(sup). mau makan corab misalnya. haha
>ditanya sama siswa: "Ogretmen mi, ogrenci mi? (Guru atau murid)"
Oh god, ini kan sekolahan SMP. jadi inget waktu di jakarta.
"pak mau ambil paket kiriman"
"oh silahkan, sekalian isi buku daftarnya. SMP atau SMA"
"...e....calon guru, pak"
"oh" sambil menutup kembali buku
Sedingin Es
Hari ini dingin sekali disertai angin. Pagi hari ketika berbicara, keluar uap. Katanya 6 derajat Celcius. Ini mirip-mirip dengan kondisi dulu waktu naik ke tangkuban perahu, sore hari/hujan/di atas gunung dan airnya es banget.
Tapi saya gembira, karena berhasil menyelesaikan puasa pertama di musim dingin. haha sahur jam 6, buka jam 5 sore. Terimakasih, hari ini sangat beruntung. Engkau Maha Baik.
Sunday, December 9, 2012
H+1
Obrolan berlanjut kepada pembahasan surat Yusuf. Saya mengira-ngira apa yang akan dibicarakan nantinya, kasus antara Nabi Yusuf a.s dengan istri sang penguasa, atau yang lainnya, namun Kubra abla rupanya hanya menimpali dan tidak menerjemahkan untuk kami. Setelah makan kami diminta untuk menyanyikan lagu khas Indonesia. Lalu tiba-tiba kami berdua terbatuk bersamaan dan Laili berujar " really sorry, we have cough" Kubra abla kemudian menerjemahkan. Bey tertawa, Hanim, dan yang lain juga tertawa, kata mereka ini seperti jawaban yang diberikan pelawak terkenal Turki kalau di suruh menyanyi. Oalahh ya sudah kami pun ikut tertawa. Selanjutnya mereka sangat tertarik dengan kami, mereka bertanya,"apakah kalian punya saudara?"
"pekerjaan orang tua kalian apa?"
kami menjawab bergantian, lalu mereka bertanya "apa sesuatu yang paling terkenal dari Indonesia? misalnya makanan, atau sayur dan buahnya?"
Kami langsung teringat si Durian. "Durian çok güzel bir mehve.. çok meshur.. abla"
Mereka sangat tertarik dan mulai googling. Mereka belum pernah melihat sebelumnya. Kemudian mereka menyuruh kami menari, ya orang sana gemar menari. ehem ehem terus kami ngeles lagi. Akhirnya kami menyarankan mereka untuk membuka youtube, mencari Tari saman. woow internetnya sangat cepat, Saman kami nggak patah-patah.
Jam 12 kami sholat dzuhur (öğle namazı) dan rasa kantuk yang hebat itu datang saat siang bolong (jetlag.com) ini adalah peristiwa khusus karena saya jarang ngantuk siang.
Subscribe to:
Posts (Atom)


















